Polisi
memasukkan mayat perempuan renta itu ke Mobil Ambulance yang
ternyata adalah korban tabrak lari di jalan lepas
hambatan itu. Tangannya yang lunglai masih menggenggam nasi, dari mulutnya
mengucur darah dan butiran - butiran nasi terakhir yang ia dapat dari
hasil memungutnya di tong sampah.
Di
rumah sakit, setelah proses autopsi dan identifikasi dari Team Patologi,
polisi menemukan kantong uang dari kain persis terselip diantara payudara
yang sudah layu dan berkeriput, payudara yang membesarkan dan menghidupi
anak-anaknya. Dari dalam kantong uang itu, polisi menemukan
KTP seumur hidup atas nama Tiominar, usia 89 tahun, alamat Lumban
Sipahut .
Sudah
sepuluh hari mayat itu di dalam lemari
pendingin kamar mayat, tidak ada sanak saudara yang mencari atau
sekedar menjenguk. Bahkan polisi kesulitan mencari alamat yang
tertera di KTP, karena tidak dilengkapi dengan RT - RW
dan nomor rumah, walaupun berbagai media cetak
dan media elektronik ibukota telah mempublikasikan
kecelakaan itu secara umum.
Polisi akhirnya membongkar
buntalan sarung tenun balige milik perempuan tua itu. Dari
buntalan itu polisi hanya menemukan kain tenun khas
Batak yaitu Ulos Sibolang.
Polisi juga membuka sebuah
wadah yang terbuat dari kaleng dan menemukan kapur, gambir dan sirih yang
sudah layu. Dari sekian banyak upaya, akhirnya polisi menemukan petunjuk
dari kunci yang tersembunyi dibawah cangkang pinang dan tumpukan
tembakau yang telah menjadi sepah. Anak kunci dengan
gantungan yang bertuliskan "Panti Jompo Perjalanan
Akhir" lengkap dengan alamat dan nomor telepon.
Di panti
jompo, polisi menanyakan identitas perempuan tua korban tabrak
lari tersebut. Pengelola menginformasikan bahwa benar korban adalah penghuni
yang sudah hilang melarikan diri beberapa hari lalu, dan menceritakan
bagaimana keseharian Tiominar yang hanya menangis dan berdoa selama
berada dalam panti, dan terus menerus mengatakan agar ia
diantar pulang ke kampong halamannya. Pengelola juga
menyampaikan bahwa
sudah berulang kali pihak panti menghubungi keluarga, memberitahukan
perihal hilangnya korban dari panti, tetapi tidak ada respon
dari pihak keluarga. Pengelola pun memberikan alamat dan nama – nama
anak korban.
Setahun
yang lalu, Tiominar dijemput paksa anak - anaknya dari kampung halaman.
Anak-anaknya mengatakan; "Tidak ada
yang memperhatikan ibu dikampung ini. Kalau terjadi apa apa,
kami yang menanggung malu”. Meski Tiominar mengatakan bahwa
aroma sawah, suara burung hantu, wanginya
pohon pinus, nyaringnya suara lonceng gereja saat
berdentang dan juga pusara suaminya, telah menjadi bagian dari
hidup yang sudah melekat dalam kesehariannya. Hentakan suara alat
tenun yang ia mainkan setiap hari sudah menjadi irama
penghantar tidur dan sudah menyatu dalam nadinya, namun
anak-anaknya tetap berkeras dan mengatakan;
"Sudahlah ibu. Seratus
Ulos bisa kami belikan untukmu, nggak usah lagi bertenun, banyak ulos dijual di
Jakarta” Akhirnya Tiominar meninggalkan kenangannya dan mengikuti kemauan
anak-anaknya, yang menjajah dan mengekang kebebasannya.
Setelah
tiga bulan di Jakarta Tiominar mulai membatin, ke tujuh
anak laki-laki dan dua anak perempuannya hampir tak pernah
bercerita dengannya. Dia rindu agar anak-anaknya
bercerita tentang masa lalu, ketika dengan lembut ia
mendidik dan membesarkan mereka dulu.
Dia merindukan
belaian anak-anaknya pada rambutnya yang telah memutih
karena uban, dia rindu agar anak-anaknya menanyakan kabar dan
kesehatannya hari ini, dia tak pernah berharap agar anak-anak mengucapkan
terimakasih atas cucuran keringatnya karena telah membesarkan mereka.
Tidak pula berharap agar anak-anaknya mengucapkan terimakasih atas petuah
dan nasihat baik yang dia tanamkan sehingga kini
anak-anaknya berhasil.
Tiominar
hanya ingin anak menantu dan
cucu-cucunya datang menyapa dia di bilik sepi dan sempit
milik mbak Narti di kamar paling belakang yang menjadi bagian
dari rumah besar itu. Tiominar makin lelah, hampir sekali dua hari
harus berpindah-pindah dari rumah anaknya yang satu ke rumah
anaknya yang lain.
Tiominar
juga membatin dan hatinya serasa teriris ketika kain tenun Ulos
Mangiring hasil karya tangannya sendiri yang ia bawa dari
kampung halaman, tidak diterima menantu dan
anak perempuannnya saat ulos itu ia lingkarkan dipundak mereka.
Padahal ulos itu sengaja ia tenun menjadi Ulos Mangiring yang
indah, hanya untuk menantu dan anak perempuan bungsunya yang
sedang mengandung anak pertama.
Anak-anaknya
mengatakan ; "Sekarang adat pemberian ulos sudah tidak relevan,
dan bertolak belakang dengan ajaran gereja kami” Mendengar
itu hati Tiominar terasa sangat sakit, apalagi ketika
Ulos Mangiring itu ditolak untuk dilingkarkan di pundak,
malah kini ulos itu oleh anak perempuannya dipakai
sebagai taplak meja setrika. Tangan rentanya meraih ulos itu dan
menangis sejadi-jadinya. Air matanya membasahi ulos itu sambil berkata
“Tuhan ... bukan bermaksud melanggar Firman-MU. Tetapi pemberian
ulos ini, hanya jalan bagi kami untuk membalut tubuh anak anak kami,
karena untuk jiwa mereka hanya Engkaulah yang pantas melakukannya.”
Hari-hari
berlalu begitu melelahkan. Ternyata kehadiran sosok ibu yang sudah menua
menjadi pemicu perpecahan diantara anak-anaknya. Semua memberi alasan, sibuk
bisnis, sedang mengikuti tender, tugas keluar negeri, rapat dll. Terlebih
para menantu perempuan, sampai ada
yang tega mengatakan ; "Papi lihat sendiri
si ibu, bau ... tau, jorok lagi ... ! Mami
malu sama teman teman arisan mami". Menantu perempuan yang lain
mengatakan ; "Lagian ibumu gak
ngerti Bahasa Indonesia pap, ... bahasa kampung
mulu ... papi liat aja, mbak Narti jadi susah ngeladenin
kita karena ibumu ... jadi nyusahin tau ... !!".
Malam
setelah arisan keluarga di rumah sang kontraktor anak pertamanya, sambil
bermain Judi Remi, akhirnya keputusan diambil. Tujuh
anak laki-laki dan dua anak perempuannya serta
para menantu sepakat ibu mereka dimasukkan di Panti Jompo.
Diantara yang hadir, hanya mbak Narti pembantu anak pertamanya yang tidak
sepakat, karena hanya dialah selama ini yang mengurus kebutuhan perempuan
tua itu. Mbak Narti menangis dan memohon ;
"Pak ... bu ... biarin
Narti yang rawat Opung (Nenek). Opung baik kok. Kalau
perlu Narti bawa Opung ke kampung Narti aja.."
. Tetapi permohonan mbak Narti itu ditolak semua oleh
anak-anaknya dengan meyakinkan mbak Narti, bahwa Panti Jompo yang mereka
pilih adalah yang terbaik dan termahal.
Jakarta hujan
lebat di pagi itu, Tiominar dijemput pengola panti tanpa diantar anak-anaknya.
Dari sekian orang yang ada, hanya Nartilah yang memeluk dan menciumi Tiominar
dengan tangisan kasih sayang. Dengan wajah bingung dan sedih Tiominar membuka
buntalan sarung tenunnya.
Dia
menangis, dan meraih lipatan ulos dari buntalan, perlahan dengan gemetar tangan
yang sudah payah dan menua itu, membalutkan Ulos Mangiring itu ke tubuh Narti,
lalu menyerahkan Alkitab ke tangan Narti, kemudian Tioninar pergi sambil
berkata; " Tuhan ... Jangan hukum anak-anakku"
Butiran
air mata Narti membasahi Alkitab pemberian Tiominar, dia tidak tau untuk
apa dan apa maksud pemberian itu. Ditelinganya hanya terngiang kata-kata
terakhir Tiominar sebelum pergi ; “Balutkan ulos
ini di tubuhmu, Ulos Mangiring yang berarti ulos yang mendatangkan
kebahagiaan, agar datang segala bentuk kebahagiaan dan semua kebaikan
dalam hidupmu. Dan ini Alkitab adalah semua jawaban
atas pertanyaan hidupmu dan pertanyaan hidupku”.
Artikel
ini adalah sebuah permenungan untuk mereka keluarga muda, sebagai
anak-anak yang memiliki ayah atau ibu tua, agar lebih memahami isi hati dan
niat tulus dari orangtuanya. Tidak memaksakan kehendak kepada orang tua, tanpa
pernah berpikir bahwa mereka telah mengambil kebebasan orang tua dengan paksa,
hanya untuk menghindar dari rasa malu.
Memasung
kebebasan orang tua untuk menghindar dari rasa malu, yang pada akhirnya harus
menanggung malu pada tingkat yang lebih besar, dimana akhirnya orang tua
dibiarkan dalam penderitaan yang tiada tara, kemudian berakhir pada kematian
yang mengenaskan.
Ketahuilah
...
Ayah
dan Ibu adalah jelmaan Sang Khalik, yaitu manusia yang bertindak
mewakili TUHAN, sebagai pencipta, pelindung, pengasih,
penyayang dan menjadi saluran berkah/berkat utama dalam kehidupan manusia yang
oleh mereka di implementasikan melalui anak-anaknya ... !!!
CATATAN
:
Artikel ini
menyebut tokoh utama sebagai Tiominar, yang digunakan hanya sebagai penguat
cerita dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan setiap orang, yang
kebetulan memiliki nama dan ciri serta tempat yang sama.
Semoga
Bermanfaat ... !
SALAM
GEMILANG.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar