Jumat, 02 September 2016

AKU TERBUANG KARENA GENGSI ANAK DAN MENANTU

Polisi memasukkan mayat perempuan renta itu ke Mobil Ambulance yang ternyata adalah korban tabrak lari di jalan lepas hambatan itu. Tangannya yang lunglai masih menggenggam nasi, dari mulutnya mengucur darah dan butiran - butiran nasi terakhir yang ia dapat dari hasil memungutnya di tong sampah.

Di rumah sakit, setelah proses autopsi dan identifikasi dari Team Patologi, polisi menemukan kantong uang dari kain persis terselip diantara payudara yang sudah layu dan berkeriput, payudara yang membesarkan dan menghidupi anak-anaknya. Dari dalam kantong uang itu, polisi menemukan KTP seumur hidup atas nama Tiominar, usia 89 tahun, alamat Lumban Sipahut .

Sudah sepuluh hari mayat itu di dalam lemari pendingin kamar mayat, tidak ada sanak saudara yang mencari atau sekedar menjenguk. Bahkan polisi kesulitan mencari alamat yang tertera di KTP, karena tidak dilengkapi dengan RT - RW dan nomor rumah, walaupun berbagai media cetak dan media elektronik ibukota telah mempublikasikan kecelakaan itu secara umum.

Polisi akhirnya membongkar buntalan sarung tenun balige milik perempuan tua itu. Dari buntalan itu polisi hanya menemukan kain tenun khas Batak yaitu Ulos Sibolang.

Polisi juga membuka sebuah wadah yang terbuat dari kaleng dan menemukan kapur, gambir dan sirih yang sudah layu. Dari sekian banyak upaya, akhirnya polisi menemukan petunjuk dari kunci yang tersembunyi dibawah cangkang pinang dan tumpukan tembakau yang telah menjadi sepah. Anak kunci dengan gantungan yang bertuliskan "Panti Jompo Perjalanan Akhir"  lengkap dengan alamat dan nomor telepon.

Di panti jompo, polisi menanyakan identitas perempuan tua korban tabrak lari tersebut. Pengelola menginformasikan bahwa benar korban adalah penghuni yang sudah hilang melarikan diri beberapa hari lalu, dan menceritakan bagaimana keseharian Tiominar yang hanya menangis dan berdoa selama berada dalam panti, dan terus menerus mengatakan agar ia diantar pulang ke kampong halamannya. Pengelola juga menyampaikan bahwa sudah berulang kali pihak panti  menghubungi keluarga, memberitahukan perihal hilangnya korban dari panti, tetapi tidak ada respon dari pihak keluarga. Pengelola pun memberikan alamat dan nama – nama anak korban.

Setahun yang lalu, Tiominar dijemput paksa anak - anaknya dari kampung halaman. Anak-anaknya mengatakan; "Tidak ada yang memperhatikan ibu dikampung ini. Kalau terjadi apa apa, kami yang menanggung malu”. Meski Tiominar mengatakan bahwa aroma sawah, suara burung hantu, wanginya pohon pinus, nyaringnya suara lonceng gereja saat berdentang dan juga pusara suaminya, telah menjadi bagian dari hidup yang sudah melekat dalam kesehariannya. Hentakan suara alat tenun yang ia mainkan setiap hari sudah menjadi irama penghantar tidur dan sudah menyatu dalam nadinya, namun anak-anaknya tetap berkeras dan mengatakan;

"Sudahlah ibu. Seratus Ulos bisa kami belikan untukmu, nggak usah lagi bertenun, banyak ulos dijual di Jakarta” Akhirnya Tiominar meninggalkan kenangannya dan mengikuti kemauan anak-anaknya, yang menjajah dan mengekang kebebasannya.

Setelah tiga bulan di Jakarta Tiominar mulai membatin, ke tujuh anak laki-laki dan dua anak perempuannya hampir tak pernah bercerita dengannya. Dia rindu agar anak-anaknya bercerita tentang masa lalu, ketika dengan lembut ia mendidik dan membesarkan mereka dulu. 


Dia merindukan belaian anak-anaknya pada rambutnya yang telah memutih karena uban, dia rindu agar anak-anaknya menanyakan kabar dan kesehatannya hari ini, dia tak pernah berharap agar anak-anak mengucapkan terimakasih atas cucuran keringatnya karena telah membesarkan mereka. Tidak pula berharap agar anak-anaknya mengucapkan terimakasih atas petuah dan nasihat baik yang dia tanamkan sehingga kini anak-anaknya berhasil.

Tiominar hanya ingin anak menantu  dan cucu-cucunya datang  menyapa dia di bilik sepi dan sempit milik mbak Narti di kamar paling belakang yang menjadi bagian dari rumah besar itu. Tiominar makin lelah, hampir sekali dua hari harus berpindah-pindah dari rumah anaknya yang satu ke rumah anaknya yang lain. 

Tiominar juga membatin dan hatinya serasa teriris ketika kain tenun Ulos Mangiring hasil karya tangannya sendiri yang ia bawa dari kampung halaman, tidak diterima menantu dan anak perempuannnya saat ulos itu ia lingkarkan dipundak mereka. Padahal ulos itu sengaja ia tenun menjadi Ulos Mangiring yang indah, hanya untuk  menantu dan anak perempuan bungsunya yang sedang mengandung anak pertama.

Anak-anaknya mengatakan ; "Sekarang adat pemberian ulos sudah tidak relevan, dan bertolak belakang dengan ajaran gereja kami” Mendengar itu hati Tiominar terasa sangat sakit, apalagi ketika Ulos Mangiring itu ditolak untuk dilingkarkan di pundak, malah kini ulos itu oleh anak perempuannya dipakai sebagai taplak meja setrika. Tangan rentanya meraih ulos itu dan menangis sejadi-jadinya. Air matanya membasahi ulos itu sambil berkata

“Tuhan ... bukan bermaksud melanggar Firman-MU. Tetapi pemberian ulos ini, hanya jalan bagi kami untuk membalut tubuh anak anak kami, karena untuk jiwa mereka hanya Engkaulah yang pantas melakukannya.”

Hari-hari berlalu begitu melelahkan. Ternyata kehadiran sosok ibu yang sudah menua menjadi pemicu perpecahan diantara anak-anaknya. Semua memberi alasan, sibuk bisnis, sedang mengikuti tender, tugas keluar negeri, rapat dll. Terlebih para menantu perempuan, sampai ada yang tega mengatakan ; "Papi lihat sendiri si ibu, bau ... tau, jorok lagi ... ! Mami malu sama teman teman arisan mami". Menantu perempuan yang lain mengatakan ; "Lagian ibumu gak ngerti Bahasa Indonesia pap, ... bahasa kampung mulu ... papi liat aja, mbak Narti  jadi susah ngeladenin kita karena ibumu ... jadi nyusahin tau ... !!".

Malam setelah arisan keluarga di rumah sang kontraktor anak pertamanya, sambil bermain Judi Remi, akhirnya keputusan diambil. Tujuh anak laki-laki dan dua anak perempuannya serta para menantu sepakat ibu mereka dimasukkan di Panti Jompo. Diantara yang hadir, hanya mbak Narti pembantu anak pertamanya yang tidak sepakat, karena hanya dialah selama ini yang mengurus kebutuhan perempuan tua itu. Mbak Narti menangis dan memohon ; 

"Pak ... bu ... biarin Narti yang rawat Opung (Nenek). Opung baik kok. Kalau perlu  Narti bawa Opung ke kampung Narti aja.." . Tetapi permohonan mbak Narti itu ditolak semua oleh anak-anaknya dengan meyakinkan mbak Narti, bahwa Panti Jompo yang mereka pilih adalah yang terbaik dan termahal.

Jakarta hujan lebat di pagi itu, Tiominar dijemput pengola panti tanpa diantar anak-anaknya. Dari sekian orang yang ada, hanya Nartilah yang memeluk dan menciumi Tiominar dengan tangisan kasih sayang. Dengan wajah bingung dan sedih Tiominar membuka buntalan sarung tenunnya. 

Dia menangis, dan meraih lipatan ulos dari buntalan, perlahan dengan gemetar tangan yang sudah payah dan menua itu, membalutkan Ulos Mangiring itu ke tubuh Narti, lalu menyerahkan Alkitab ke tangan Narti, kemudian Tioninar pergi sambil berkata; " Tuhan ... Jangan hukum anak-anakku"

Butiran air mata Narti membasahi Alkitab pemberian Tiominar, dia tidak tau untuk apa dan apa maksud pemberian itu. Ditelinganya hanya terngiang kata-kata terakhir Tiominar sebelum pergi ;  “Balutkan ulos ini di tubuhmu, Ulos Mangiring yang berarti ulos yang mendatangkan kebahagiaan, agar datang segala bentuk kebahagiaan dan semua kebaikan dalam hidupmu. Dan ini Alkitab adalah semua jawaban atas pertanyaan hidupmu dan pertanyaan hidupku”.

Artikel ini adalah sebuah permenungan untuk mereka keluarga muda, sebagai anak-anak yang memiliki ayah atau ibu tua, agar lebih memahami isi hati dan niat tulus dari orangtuanya. Tidak memaksakan kehendak kepada orang tua, tanpa pernah berpikir bahwa mereka telah mengambil kebebasan orang tua dengan paksa, hanya untuk menghindar dari rasa malu.

Memasung kebebasan orang tua untuk menghindar dari rasa malu, yang pada akhirnya harus menanggung malu pada tingkat yang lebih besar, dimana akhirnya orang tua dibiarkan dalam penderitaan yang tiada tara, kemudian berakhir pada kematian yang mengenaskan.

Ketahuilah ...

Ayah dan Ibu adalah jelmaan Sang Khalik, yaitu manusia yang bertindak mewakili TUHAN, sebagai pencipta, pelindung, pengasih, penyayang dan menjadi saluran berkah/berkat utama dalam kehidupan manusia yang oleh mereka di implementasikan melalui anak-anaknya ... !!!

CATATAN  :

Artikel ini menyebut tokoh utama sebagai Tiominar, yang digunakan hanya sebagai penguat cerita dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan setiap orang, yang kebetulan memiliki nama dan ciri serta tempat yang sama.

Semoga Bermanfaat ... !

SALAM GEMILANG.